Jumat, 20 Desember 2013

Hakikat Berbicara Tanpa Persiapan

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bagi sebagian orang, bicara di depan umum adalah hal biasa. Tampil di podium ibarat ngobrol ke sana kemari hingga waktunya habis. Namun, bagi orang kebanyakan, meskipun mereka adalah mahasiswa atau bahkan guru, bicara di hadapan khalayak ramai mengundang ketakutan tersendiri. Bicara runtut dengan ide pokok yang jelas ternyata bukan perkara yang mudah. Karena pada hakekatnya tujuan utama berbicara adalah untuk berkomukasi (Tarigan, 1981 :16). Apalagi, bila tiba-tiba kita diminta menggantikan seseorang yang batal hadir untuk mengisi sambutan atau ceramah.
Berani tampil ke muka adalah sebuah tantangan. Kita tentu diharapkan mampu menaklukkan tantangan tersebut dengan lihai. Kita tidak semestinya mundur teratur tatkala kita dipilih menjadi “tumbal” sebuah acara penting yang harus terlaksana. Memang, siapa pun, bahkan presiden SBY, sebelum tampil di depan masyarakat, perlu persiapan mental dan materi yang menarik. Rasanya tidak puas jika kita bicara langsung tanpa adanya planning. Namun, bagaimana bila kita dihadapkan kepada situasi yang sulit? Mundur malu, maju pun tak siap?
Nah, di sini perlu manajemen otak yang cepat. Meskipun banyak orang memilih menghindari tantangan daripada menyambutnya, nampaknya kita perlu melatih diri untuk selalu siap materi ketika berbaur dengan orang banyak. Dengan bekal tersebut, di saat kita “ketiban sampur” alias jadi pengganti tiba-tiba, mental kita bisa bekerja keras untuk tetap tegar dan siap gagal. Prinsip siap gagal adalah salah satu sugesti yang mampu mendorong kita untuk berani menanggung resiko. Toh, kita sudah menang satu langkah karena bisa menghindarkan kegagalan sebuah acara meskipun tidak sempurna. Misalnya, pada suatu acara keagamaan, sang ustad tidak hadir. Padahal, acara “ular-ular” atau mauidzah hasanah itu harus ada. Pada kondisi ini, ketegaran jiwa dan kematangan mental akan diuji tatkala kita diminta sebagai badalnya. Rumit terasa, tetapi ini adalah sebuah “ujian” kehidupan yang harus kita jalani. Kita harus memilih sebagai pahlawan daripada sebagai pecundang.
Seorang pembicara adalah ibarat seorang artis (Wendra, 2012), untuk itu kita sebagai delegasi dan penerus bangsa indonesia hendaknya mampu tampil ke muka dengan intelegasi normal dan penuh sikap mawas diri, ketika ditunjuk untuk tampil mendadak menjadi pembicara yang mampu membawa dan menarik simpati pendengar.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka masalah yang nantinya akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut. Apa yang dimaksud dengan hakikat berbicara tanpa persiapan?, apa saja sikap mental yang harus dibina oleh seorang pembicara pada saat berbicara tanpa persiapan ? dan apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berbicara tanpa persiapan?
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
PEMBAHASAN
1.     Hakikat Berbicara Tanpa Persiapan      
Berbicara adalah “kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Tarigan, 1981 :6). Menurut Djago Tarigan (1998) menjelaskan bahwa berbicara adalah kemampuan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.  Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah kempuan mengucapkan bunyi suara untuk menyampaikan maksud dan tujuan yang ada didalam pikiran manusia dalam bentuk pendapat, percakapan , wawancara, pidato, kepada lawan bicara dengan memperhatikan struktur kalimat pelapan, intonasi, ekspresi  dan suara agara tersampaikan dengan benar. Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomukasi ( Tarigan, 1981 : 16 ).
            Dalam mengembangkan keterampilan berbicara ada beberapa aspek, salah satunya yaitu, berbicara tanpa persiapan (mendadak). Pada hakikatnya berbicara tanpa persiapan dapat juga disebut dengan To Aldlib/ ad libbing / ad libs berarti mengatakan sesuatu tanpa persiapan atau memberikan komentar secara spontan. Kata ini berasal dari bahasa latin “ ad libitum” yang berarti mempertun ujukkan dengan bebas atau kekebasan  ( to be perform with freedom). Hanya dengan bekal sperti fonetik, artikulasi dan iterpretasi yang sudah di kuasai dengan baik, maka seorang ad lib announcer dan dapat memikat dan menarik simpati pendengar atau penonton.
Berbicara tanpa persiapan biasanya sering dilakukan oleh beberapa penyiar yang sudah berpengalaman. Karena dalam melakukannya, mereka jarang melihat catatan yang mereka bawa dan hanya memandu secara spontan. Ada beberapa langkah agar berbicara tanpa persiapan bisa dilakukan dengan baik yaitu :
1.      Tahu apa yang dibicarakan
Pada saat kita membawakan sebuah acara secara adlibs, dipastikan kita harus menguasai semua materi dengan baik. Akan sangat buruk hasilnya jika nantinya muncul dengan ketidaksiapan materi. Maka adlibs akan gagal total dan penyiar akan terlihat ketidaksiapannya. Langkah terbaik sebelum melakukan siaran secara adlibs adalah riset. Dengan melakukan riset, kita bisa mengetahui banyak hal, mempelajari satu persatu permasalahan yang akan kita sampaikan. Tanpa riset, bisa dipastikan akan gagal siaran adlibs.
2.      Berminat dengan apa yang akan dikatakan
Memang sulit untuk menumbuhkan minat pada sesuatu yang mungkin baru kita kuasai. Namun setidaknya, jika ada kemauan untuk mau mempelajari dan menguasai, minat pasti akan tumbuh. Tanpa adanya niat, maka dalam diri kita akan ada penolakan yang nantinya akan berujung ketidaksiapan kita menyampaikan sebuah materi. Untuk menumbuhkan minat memang harus riset dan mempelajari sesuatu dari sisi sisi yang menarik terlebih dahulu.
3.      Berhasrat untuk berkomunikasi dengan pendengar atau penonton
Hal ini akan terjadi hanya jika kita benar benar ingin berkomunikasi dan menganggap berbicara di radio atau televisi adalah sesuatu yang menyenangkan. Pastikan kita bisa mengembangkan imajinasi jika kita berbicara dengan orang banyak yang berarti banyak pula keinginan mereka.
4.      Mencoba mengembangkan kepribadian yang menarik
Dengan berusaha mengembangkan kepribadian yang menarik, maka kita akan berusaha tampil maksimal yang berarti pula kita akan berusaha tampil sebaik mungkin.
Namun semua ini tak ada gunanya jika tidak pernah berlatih. Berlatih sangat penting untuk semakin membiasakan berbicara secara adlibs. Tanpa berlatih mustahil semuanya bisa berjalan dengan baik. Salah satu kunci yang harus dipegang adalah  “Jangan pernah berhenti berlatih”.
2.     Sikap Mental yang Harus Dibina dalam Berbicara Tanpa Persiapan
Kegiatan berbicara tanpa persiapan merupakan kegiatan yang membutuhkan berbagai macam pengetahuan dan kemampuan yang sangat kompleks, salah satunya adalah sikap mental. Sikap mental yang harus dibina oleh seorang pembicara pada saat berbicara tanpa persiapan dijelaskan berikut ini.
 
1.      Rasa Komunikasi
            Dalam berbicara tanpa persiapan harus terdapat keakraban antara pembicara dan pendengar. Jika rasa keakraban itu tumbuh. Dapat dipastikan tidak akan terjadi proses komunikasi yang timpang. Pembicara yang baik akan berusaha untuk menumbuhkan suasana komunikasi yang erat, seperti dalam pembicaraan sehari-hari. Respon yang diharapkan dari pendengar adalah komunikasi yang aktif.
2.      Rasa Percaya Diri
Dalam berbicara tanpa persiapan, seorang pembicara harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya ini akan menghilangkan keraguan, sehingga pembicara akan merasa yakin dengan apa yang disampaikannya.
3.    Rasa Kepemimpinan
Aminudin (1983: 12) mengemukakan bahwa rasa kepemimpinan yang berhubungan dengan kegiatan berbicara adalah rasa percaya diri dari pembicara bahwa dirinya mampu mengatur, menguasai, dan menjalin suasana akrab dengan pendengarnya, serta mampu menyampaikan gagasan-gagasannya dengan baik.
Pembicara yang memiliki kemampuan dan mental pemimpin akan mampu mengatur dan mengarahkan pendengar agar berkonsentrasi terhadap pokok pembicaraan yang sedang dibahas.
 
3. Hal-hal yang Perlu DiPerhatikan dalam Berbicara Tanpa Persiapan
            Dalam situasi dan kondisi tertentu, kadang kala seorang diminta berbicara atau ditunjuk  untu berbicara secara mendadak. Tiaklah baik kalau dilakukan penolakan terhadap penunjukkan tersebut karena betapa pun akan mempengaruhi citra diri oran yang ditunujuk tersebut. Dalam kondisi seperti ini pembicara harus melakukan berbicara tanpa persiapan atau berbicara mendadak. Metode berbicara seperti ini disebut dengan metode  impromptu (serta merta atau mendadak).
            Hal seperti di atas tidak perlu dicemaskan karena pada prinsipnya siapa pun dengan intelegensi normal dan mawas diri bisa membuat pembicaraan mendadak yang cemerlang dan dapat diterima (Carnegie, 2001: 150). Kemampuan untuk mengumpulkan pemikiran seseorang dan berbicara secara mendadak  bahkan lebih penting dalam beberapa hal dibandingkan dengan kemampuan berbicara hanya setelah persiapan yang panjang dan susah payah.           
            Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan berbicara tanpa persiapan.
1.      Praktikkan Berbicara Tanpa Persiapan
Berbicara sebagai suatu keterampilan dalam penguasaannya sangat diperlukan latihan-latihan praktik berbicara. Melalui latihan dan praktiklah akan tercipta suatu pengkondisian. Demikian hal dalam berbicara tanpa persiapan, sehinggan tidak asing lagi kalau dalam kursus-kursus keterampilan berbicara seperti yang dilakukan (Carnegie (2001), para siswanya dilatih juga berbicara tanpa persiapan atau mendadak.
Latihan atau praktik akan memberikan dua hal yaitu:
1.      Latihan-latihan telah membuktikan pada siswa untuk bisa berpikir sendiri.
2.      Pengalaman membuat siswa lebih merasa aman dan percaya diri ketika menyampaikan pembicaraan yang sudah dipersiapkan.
Jika sesuatu yang paling buruk harus terjadi dan mengalami kehilangan kata-kata, mereka masih bisa berbicara mendadak sampai menemukan jalurnya kembali.
Saat siswa diberikan tugas berbicara dengan topic yang mendadak yang tidak sesuai dengan keahliannya, mereka tidak menyerah. Mereka tidak berpura-pura menjadi orang yang ahli dibidang tersebut. Mereka mempelajari permasalahan dicocokkan dengan pengetahuan tentang sesuatu yang akrab dengan mereka. Jika para siswa dalam kursus dapat melakukannya, siapa pun pasti bisa asalkan dengan kemauan dan percaya diri.
2.      Siapkan Mental dalam Berbicara Mendadak
Dalam hal ini pembicara dihadapkan dengan masalah untuk menghadapi situasi dan memutuskan dalam waku singkat.  Salah satu cara yang terbaik adalah senantiasa menyiapkan mental terhadap situasi seperti ini. Jadi kondisikanlah mental untuk berbicara tanpa persiapan dalam segala kesempatan.
Tentunya semua itu akan membutuhkan pemikiran, dan berpikir merupakan sesuatu di dunia yang paling berat dilakukan. Tidak seorang pun dapat pernah membuat reputasi sebagai pembicara mendadak yang tidak mempersiapkan diri dengan mencurahakan waktu untuk menganalisis setiap situasi public. Orang yang sukses sebagai pembiacara mendadak mempersiapakan dirinya dengan membuat pembicaraan yang tidak terhitung. Pembicara seperti ini sebenarnya bukan mendadak, mereka berbicara dengan persiapan secara umum.
3.      Segera Berikan Contoh
Dalam pembicaraan, segeralah berikan contoh. Mengapa demikian? Ada tiga alasan mengapa harus segera memberikan contoh.
1.      Pembicara akan terbebas dari berpikir keras tentang kalimat selanjutnya sebab contoh merupakan pengalaman yang mudah diingat kembali bahkan pada situasi mendadak.
2.      Pembaca dapat membaca perhatian pendengar sekaligus. Contoh merupakan metode yang pasti untuk menangkap perhatian dengan cepat ketika pembicara sangat membutuhkan terutama selama momen pertama pembicaraan.
Dengan alasan tersebut, maka dengan segera memberikan contoh saat berbicara mendadak merupakan langkah yang tepat.
4.      Berbicara dengan Kekuatan dan Animasi
 
Berbicara dengan energy dan kekuatan,animasi eksternal, pembicara akan mendapatkan efek yang menguntungkan bagi proses mental. Hal ini akan memberikan kelancaran, kecermalangan dan menarik perhatian pendengar karena hubungan antara aktivitas fisik dan pikiran sangat erat. Pembicara menggunakan kata-kata yang sama untuk menggambarkan operasi manual dan mental. Segeralah memerintah tubuh, menyuruh pikiran berfungsi dengan langkah cepat. Itulah sebabnya Carnegei (2001) menasehati agar pembicara meleburkan diri tanpa batas pada pembicara. .
5.      Gunakan Prinsip di sini dan Sekarang
Seseorang tiba-tiba sadar bahwa pembawa acara sedang berbicara tentang dirinya. Semua orang memandangnya dan ia diperkenalkan sebagai pembicara selanjutnya. Dalam situasi pembicara harus tenang atau menenangkan dirinya. Umtuk itu terapkan prinsip di sini dan sekrang sebagai titik tumpu pembicaraan yang akan dilakukan. Ada tiga sumber yang terkait untuk dapat menggambarkan ide-ide  dalam pembicaraan mendadak seperti ini.
Pertama adalah pendengar itu sendiri. Untuk kemudian berbicara, berbicaralah tentang pendengar, siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan, khususnya topic apa yang disampaikan pada masyarakat atau untuk kemanusiaan.
Kedua adalah peristiwa. Pikirkan situasi dan latar belakang pertemuan. Apakah saat itu hari peringatan, upacara pemberian tanda penghargaan, pertemuan tahunan, peristiwa politik dan lain sebagainya.
Ketiga, jika pembicara sebelumnya telah menjadi pendengar yang penuh perhatian, pembicara saat berbicara menyiratkan akan kesenangan akan sesuatu yang spesifik yang dikatakan pembicara lain sebelum anda dan menguatkan hal  tersebut.
6.      Jangan Berbicara Tanpa Persiapan Berlatihlah Berbicara Mendadak
Pernyataan di atas tampak kontradiktif namun kenyataan memang demikian. Sebagaiman telah disebutkan pada butir kedua yaitu dengan persiapan pembiacaraan seperti itu bukannya pembicaraan mendadak tetapi dengan persiapan secara umum (Carnegei,2001). Pembicara harus menjaga agar ide-ide tetap logis dengan mengelompokkan pikiran utama yang ingin dijelaskan.  Usahakan selalu siap memadatkan ide dalam beberapa patah kata. Sampaikan dengan singkat dan jelas.
 
 
                                                                                                                      
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kami simpulkan bahwa hakikat berbicara tanpa persiapan adalah mengatakan sesuatu tanpa persiapan atau memberikan komentar secara spontan. Berbicara tanpa persiapan bisa dilakukan dengan baik dengan cara 1. tahu apa yang dibicarakan, 2. Berminat dengan apa yang akan dikatakan, 3. Berhasrat untuk berkomukasi dengan pendengar, 4. Mencoba mengembangkan kepribadian yang menarik. Sikap mental yang harus dibina dalam berbicara tanpa persiapan yaitu rasa komnikasi, rasa percaya diri, dan  rasa kepemimpinan. Hal- hal yang perlu di perhatikan dalam berbicara tanpa persiapan yaitu :
1. Praktikkan berbicara tanpa persiapan
2. Siapkan mental dalam berbicar mendadak
3. Segera berikan contoh                                      
4. Berbicara dengan kekuatan dan animasi
5. Gunakan prinsip di sini dan sekarang
6. Jangan berbicara tanpa persiapan berlatih berbicara mendadak.

2. Saran
Untuk menjadi pembicara yang baik sekalipun tanpa persiapan, sebaiknya sebagai pembicara terlebih dahulu menyiapkan mental sebelum berbicara, dan memperhatikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berbicara tanpa persiapan. Dengan begitu berbicara tanpa persiapan dapat dilakukan tentunya dengan cara berlatih terus menerus. 
 
            

UTS Mata Kuliah Puisi

Soal :
1.        Apa pentingnya mengetahui ragam puisi?
2.        Mengapa puisi itu dibagi berdasarkan ragam dan bentuknya?
3.        Jelaskan pembagian puisi menurut Heman J.Waluyo!
4.        Jelaskan bentuk perbedaan puisi mantra dan puisi konkret!
5.        Apa pentingnya bunyi pada puisi Stardji Calzoum Bachri?
6.        Mengapa puisi mbeling dapat dikategorikan sebagai puisi awam?
7.        Sebutkan ciri-ciri yang dapat dimasukan ke dalam puisi mbeling!
8.        Jelaskan letak perbedaan pantun dan puisi!
9.        Jelaskan rumusan pembagian puisi Jus Badudu!
10.    Siapakah yang dianggap sebagai penyair puisi kontemporer nonkonvensional?

Jawaban:
1.      Pentingnya mengetahui ragam puisi adalah untuk menambah wawasan tentang ragam puisi. Berguna untuk dalam menentukan bahwa sebuah karya sastra merupakan puisi atau bukan. Selain itu, agar kita bisa memahami dan menjelaskan tentang ragam puisi yang ditulis para penyair Indonesia atau menafsirkan maksud yang hendak disampaikan penyair.
2.      Puisi itu dibagi berdasarkan ragam dan bentuknya karena puisi itu memiliki cirri-ciri tersendiri yang dapat membedakan antara satu dengan lainya misalnya dilihat dari jumlah baris. Contoh : puisi baru ada yang terdiri 2 baris (disticon), 3 baris (terzina), dan 4 baris (quatrain).
3.      Pembagian puisi menurut Herman J. Waluyo adalah
a.       Puisi naratif, lirik dan deskriftif
b.      Puisi kamar dan puisi auditorium
c.       Puisi fisikal, platonik dan metafisikal
d.      Puisi subjektif dan objektif
e.       Puisi konkret
f.       Puisi diafan, puisi gelap, dan puisi prismatic
g.      Puisi pernasian dan puisi insfiratif
h.      Puisi stanza
i.        Puisi demonstrasi dan puisi pamphlet
j.        Puisi alegori
4.      Perbedaan bentuk puisi mantra dan puisi konkret adalah puisi Mantra, puisi yang menempatkan bunyi sebagai kekuatan gaib atau sublime yang dapat menimbulkan arti dan menciptakan daya magis. Dengan kata lain, puisi mantra adalah puisi yang mengikuti poila mantra. Akan tetapi, puisi mantra bukan hanya dibentuk dari struktur kata-katanya yang mempunyai rima dan ritma, melainkan dibentuk dari struktur batinnya, sedangkan puisi Konkret sering disebut sebagai puisi rupa karena lebih menekankan bentuk rupanya atau gambarannya atau ukirannya atau bendanya. Dengan kata lain, puisi konkret adalah pusi yang pengaturan puisinya membentuk gambar tertentu disesuaikan dengan judul, tema, dan pesannya.
5.      Pentingnya bunyi pada puisi Sutardji Calzoum Bachri adalah beliau beranggapan bahwa kekuatan makna dan juga karakter pada puisi Sutardji Calzoum Bachri terletak pada bunyi puisi yang dia sampaikan. Dari pusi dia menyampaikan karakter, melalui puisi dia menyampaikan nilai social, dan dari puisi pula dia menunjukan kekuatan.
6.      Puisi mbeling dapat dikategorikan sebagai puisi awam karena puisi mbeling menerima apa adanya dan karena keluguannya menerima persoalan tanpa keterbatasan ruang dan waktu atau absurd tak absurd.
7.      Ciri-ciri yang dapat dimasukkan ke dalam puisi mbeling adalah
a.       Menggunakan bahasa yang lugas
b.      Menyampaikan suatu kritik
c.       Membentuk lelucon
d.      Tidak terikat konvensi puisi pada umumnya
8.      Letak perbedaan pantun dan puisi adalah pantun terdapat 8 suku kata – 12 suku kata dalam 1 baris, terdapat 4 kata dalam 1 baris. Sedangkan  puisi : tidak ada aturan yang sangat mengikat seperti yang terdapat dalam pantun.
9.      Rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu adalah puisi dapat dibagi berdasarkan bentuknya, puisi lama (mantra, bidal, pantun, syair, seloka, gurindam, talibun, puisi dari bahasa asing), puisi baru (disticon, terzina, quatrain, quin sextet, septima, stanza, sonata, dan sajak).

10.  Penyair  puisi kontemporer  nonkonvensional ialah Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, Ibrahim Sattah, Husni Jamaludin, Noorca Marendra, Darmanto Jatman, Joss Sarhadi, Dharma Sari, B. Priyono, Widji Muthari, Frans Nadjira, Syahril Latif, sedangkan penyai yang terkena pengaruh