Dewasa
ini, negara kita selalu saja dibuntuti banyak masalah, salah satunya yakni
banjir. Ini merupakan masalah yang seolah menjadi tradisi turun-temurun dari
nenek moyang kita terdahulu, masalah banjir memang merupakan bencana atau
musibah yang relatif dan bisa menimpa siapa dan kapan saja yang dikehendaki
Tuhan. Jika dicermati, masalah yang selama ini menghantui bumi pertiwi kita ini
merupakan kesalahan dari pribadi kita masing-masing. Negara yang dihuni oleh
lebih dari 200 jiwa ini, tentu saja memiliki banyak perbedaan prinsip antar
individu atau kelompok. Cotohnya dalam hal kebersihan, kata bersih memang bukan
kata yang asing lagi ditelinga kita, namun kata ini sangat berperan dalam topik
yang akan kita bahas kali ini. “Kebersihan adalah sebagian dari iman” kalimat
ini merupakan kalimat yang sering kita dengar sejak masih duduk di bangku
sekolah dasar. Namun apa implikasinya bagi kita? Nol. Kalimat ini seolah hanya
menjadi hiasan dinding semata bahkan hanya dijadikan pelengkap ruangan yang
baru dibangun. Inilah Indonesia, apa yang patut kita banggakan jika
masyarakatnya tak mampu mengaplikasikan satu kalimat saja.
Sebuah
akibat tentu ada sebabnya. Akibat banjir adalah salah satu contoh dari sekian
bencana yang disebabkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri, bagaimana tidak,
banjir merupakan implikasi dari pernyataan atau kalimat yang tidak kita
jalankan selama ini yakni “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Seharusnya
kita sebagai generasi penerus bangsa yang beriman khususnya menanamkan hal itu
sejak dini, sehingga hal itu niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan positif yang rutin kita jalani. Sementara di lain
pihak seperti pemerintah daerah, mereka hanya mampu bersuara dibalik
laudspeaker saja tanpa terjun langsung menjadi contoh dari khalayak masyarakat
agar nantinya dapat ditiru dan dilaksanakan secara bertahap.
Mengembalikan kesadara seseorang bukan
semudah membalikkan telapak tangan, tetapi perlu teknik-teknik khusus yang
memerlukan tingkat kesabaran bagi yang ingin menyadarkan. Seseorang dengan
berbagai kesibukannya sendiri, tak akan sempat memikirkan masalah kecil seperti
kebersihan. Mereka tentu saja akan jauh memilih berdiam di kantor dan
mengerjakan sesuatu yang menghasilkan banyak uang sehingga ia dapat terpuaskan
dan menjadi sorotan banyak publik daripada ikut memunguti sampah-sampah yang
mereka buang, sementara mereka mempunyai Office Boy (OB) yang senantiasa diberi
honor perbulannya. Memang komitmen mereka tidak dapat dikatakan salah, tapi
apakah mereka nyaman dengan daerah yang kumuh, kotor, dekil, bahkan dipenuhi
air yang senantiasa mereka lalui setiap akan menuju kantor tempat bekerjanya.
Semua orang pasti akan mengatakan tidak tentunya.
Sifat tulus dan rela berkorban sangat
diperlukan dalam mengatasi kesadaran setiap individu akan hal kebersihan. Dari
sekian juta lapisan masyarakat Indonesia yang didominasi oleh penduduk muslim
pasti ada dan banyak yang memiliki sifat tersebut. Namun, yang menjadi kendala
disini bukan mencari orang yang memiliki sifat tulus dan rela berkorban
melainkan orang yang mau diajak turun kelapangan dan mau memunguti
sampah-sampah liar dengan tangan mereka sendiri. Masyarakat indonesia memang
terkenal dengan sifat gengsi yang banyak ditonjolkan seseorang, malu dilihat
murahan, malu nanti seandainya dilihat oleh saudara atau sahabat yang notabene
merupakan anak pejabat negara, malu akan diejek teman karena memunguti sampah
seperti halnya pemulung jalanan itulah anak jaman sekarang.
Di era milenium ke-2 ini, banyak anak
usia dini hanya dimanjakan oleh fasilitas teknologi terkini yang bertujuan agar
nantinya tidak akan membawa mereka tersesat dikemudian hari. Ini bukan
merupakan solusi yang pantas diberikan oleh anak usia dini, usia mereka
harusnya diberikan suapan moral, dididik agar nantinya berbakti kepada orang
tua dan yang terpenting selalu dapat menjaga kebersihan lingkungan dimanapun ia
tinggal. Itu baru dinamakan solusi agar anak tidak tersesat dikemudian hari, bukan dengan teknologi yang masih dapat diberikan
kelak ia telah beranjak duduk dibangku
sekolahan. Sebenarnya ini merupakan awal untuk menumbuhkan sikap yang tanggap
akan lingkungan sekitar dan rasa peduli sesama manusia.
Begitu sulitnya menyadarkan seseorang
akan pentingnya kebersihan. Dari uraian singkat penulis diatas, dapat
disimpulkan bahwa menyadarkan seseorang akan pentinganya kebersihan itu harus
berawal dari diri kita pribadi, sifat tulus dan rela berkorban sangat
diperlukan dalam mengatasi kesadaran setiap individu akan hal kebersihan, pemerintah
bukan berarti hanya meyeru-nyeru dibalik loudspeaker saja, melainkan ikut
terjun langsung dan dapat membangkitkan hasrat bergotong-royong warga
masyarakat untuk bersama-sama memunguti sampah sekitar. Agar kelak tidak
terjadi bencana banjir dan mematahkan statemen bahwa banjir merupakan tradisi
bangsa Indonesia. Bagi para orang tua agar dapat mendidik anak-anaknya sejak
dini untuk tanggap terhadap lingkungan agar kelak menjadikan sebuah kebiasaan
positif dan berbuah manis bagi bangsa kita Indonesia bukan dengan memanjakannya
dengan fasilitas teknologi saja. Ini merupakan PR bagi kita bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar