Kamis, 12 Desember 2013

Sulitnya Menyadarkan Seseorang Akan Pentingnya Kebersihan




            Dewasa ini, negara kita selalu saja dibuntuti banyak masalah, salah satunya yakni banjir. Ini merupakan masalah yang seolah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang kita terdahulu, masalah banjir memang merupakan bencana atau musibah yang relatif dan bisa menimpa siapa dan kapan saja yang dikehendaki Tuhan. Jika dicermati, masalah yang selama ini menghantui bumi pertiwi kita ini merupakan kesalahan dari pribadi kita masing-masing. Negara yang dihuni oleh lebih dari 200 jiwa ini, tentu saja memiliki banyak perbedaan prinsip antar individu atau kelompok. Cotohnya dalam hal kebersihan, kata bersih memang bukan kata yang asing lagi ditelinga kita, namun kata ini sangat berperan dalam topik yang akan kita bahas kali ini. “Kebersihan adalah sebagian dari iman” kalimat ini merupakan kalimat yang sering kita dengar sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun apa implikasinya bagi kita? Nol. Kalimat ini seolah hanya menjadi hiasan dinding semata bahkan hanya dijadikan pelengkap ruangan yang baru dibangun. Inilah Indonesia, apa yang patut kita banggakan jika masyarakatnya tak mampu mengaplikasikan satu kalimat saja.

            Sebuah akibat tentu ada sebabnya. Akibat banjir adalah salah satu contoh dari sekian bencana yang disebabkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri, bagaimana tidak, banjir merupakan implikasi dari pernyataan atau kalimat yang tidak kita jalankan selama ini yakni “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa yang beriman khususnya menanamkan hal itu sejak dini, sehingga hal itu niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan positif  yang rutin kita jalani. Sementara di lain pihak seperti pemerintah daerah, mereka hanya mampu bersuara dibalik laudspeaker saja tanpa terjun langsung menjadi contoh dari khalayak masyarakat agar nantinya dapat ditiru dan dilaksanakan secara bertahap. 

Mengembalikan kesadara seseorang bukan semudah membalikkan telapak tangan, tetapi perlu teknik-teknik khusus yang memerlukan tingkat kesabaran bagi yang ingin menyadarkan. Seseorang dengan berbagai kesibukannya sendiri, tak akan sempat memikirkan masalah kecil seperti kebersihan. Mereka tentu saja akan jauh memilih berdiam di kantor dan mengerjakan sesuatu yang menghasilkan banyak uang sehingga ia dapat terpuaskan dan menjadi sorotan banyak publik daripada ikut memunguti sampah-sampah yang mereka buang, sementara mereka mempunyai Office Boy (OB) yang senantiasa diberi honor perbulannya. Memang komitmen mereka tidak dapat dikatakan salah, tapi apakah mereka nyaman dengan daerah yang kumuh, kotor, dekil, bahkan dipenuhi air yang senantiasa mereka lalui setiap akan menuju kantor tempat bekerjanya. Semua orang pasti akan mengatakan tidak tentunya.

Sifat tulus dan rela berkorban sangat diperlukan dalam mengatasi kesadaran setiap individu akan hal kebersihan. Dari sekian juta lapisan masyarakat Indonesia yang didominasi oleh penduduk muslim pasti ada dan banyak yang memiliki sifat tersebut. Namun, yang menjadi kendala disini bukan mencari orang yang memiliki sifat tulus dan rela berkorban melainkan orang yang mau diajak turun kelapangan dan mau memunguti sampah-sampah liar dengan tangan mereka sendiri. Masyarakat indonesia memang terkenal dengan sifat gengsi yang banyak ditonjolkan seseorang, malu dilihat murahan, malu nanti seandainya dilihat oleh saudara atau sahabat yang notabene merupakan anak pejabat negara, malu akan diejek teman karena memunguti sampah seperti halnya pemulung jalanan itulah anak jaman sekarang. 

Di era milenium ke-2 ini, banyak anak usia dini hanya dimanjakan oleh fasilitas teknologi terkini yang bertujuan agar nantinya tidak akan membawa mereka tersesat dikemudian hari. Ini bukan merupakan solusi yang pantas diberikan oleh anak usia dini, usia mereka harusnya diberikan suapan moral, dididik agar nantinya berbakti kepada orang tua dan yang terpenting selalu dapat menjaga kebersihan lingkungan dimanapun ia tinggal. Itu baru dinamakan solusi agar anak tidak tersesat dikemudian hari,  bukan dengan teknologi yang masih dapat diberikan kelak  ia telah beranjak duduk dibangku sekolahan. Sebenarnya ini merupakan awal untuk menumbuhkan sikap yang tanggap akan lingkungan sekitar dan rasa peduli sesama manusia.

Begitu sulitnya menyadarkan seseorang akan pentingnya kebersihan. Dari uraian singkat penulis diatas, dapat disimpulkan bahwa menyadarkan seseorang akan pentinganya kebersihan itu harus berawal dari diri kita pribadi, sifat tulus dan rela berkorban sangat diperlukan dalam mengatasi kesadaran setiap individu akan hal kebersihan, pemerintah bukan berarti hanya meyeru-nyeru dibalik loudspeaker saja, melainkan ikut terjun langsung dan dapat membangkitkan hasrat bergotong-royong warga masyarakat untuk bersama-sama memunguti sampah sekitar. Agar kelak tidak terjadi bencana banjir dan mematahkan statemen bahwa banjir merupakan tradisi bangsa Indonesia. Bagi para orang tua agar dapat mendidik anak-anaknya sejak dini untuk tanggap terhadap lingkungan agar kelak menjadikan sebuah kebiasaan positif dan berbuah manis bagi bangsa kita Indonesia bukan dengan memanjakannya dengan fasilitas teknologi saja. Ini merupakan PR bagi kita bersama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar